“Saya butuh modal” bisa berarti banyak hal. Modal untuk membeli mesin berbeda dengan modal untuk membuka cabang, dan keduanya berbeda lagi dengan modal untuk menutup rugi selama berebut pasar. Memilih sumber modal yang salah bisa sama merepotkannya dengan tidak dapat modal sama sekali.

Setiap sumber modal punya “harga”. Harganya tidak selalu berupa bunga. Kadang berupa cicilan tetap, kadang berupa sebagian kepemilikan, kadang berupa kewajiban melapor. Berikut enam pilihan yang tersedia bagi usaha di Indonesia.

1. Laba sendiri

Modal pertama selalu ada di dalam usaha itu sendiri. Keuntungan yang tidak diambil pemilik, lalu diputar lagi ke usaha, disebut laba ditahan. Modal ini tidak berbunga, tidak mengurangi kepemilikan Anda, dan tidak mendatangkan orang lain yang ikut mengatur.

Harganya adalah waktu. Usaha hanya bisa tumbuh secepat labanya. Namun banyak usaha justru sehat karena cara ini: setiap cabang baru dibiayai oleh cabang lama yang sudah terbukti untung.

2. Kredit Usaha Rakyat (KUR)

KUR adalah pinjaman usaha dari program pemerintah. Bunganya rendah karena sebagian dibayar pemerintah, dan disalurkan lewat bank serta lembaga keuangan yang ditunjuk.

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, hingga menjelang akhir 2025 KUR sudah disalurkan Rp240,09 triliun kepada 4,07 juta pelaku usaha. Untuk 2026, pemerintah menargetkan Rp295 triliun dan merencanakan bunga tetap 6% per tahun bagi sektor produksi. Ada juga skema baru yang membolehkan hak kekayaan intelektual, seperti merek atau hak cipta, dipakai sebagai jaminan tambahan, dengan target Rp10 triliun di sektor ekonomi kreatif.

Untuk usaha mikro dan kecil yang sudah berjalan, KUR sering menjadi modal termurah. Harganya adalah cicilan tetap setiap bulan, baik saat penjualan ramai maupun sepi.

3. Kredit bank biasa

Kalau kebutuhan Anda sudah melebihi batas KUR, langkah berikutnya adalah kredit bank biasa. Bunganya lebih tinggi, jaminannya lebih ketat, dan bank akan meminta laporan keuangan yang rapi. Bagi banyak usaha, syarat laporan keuangan inilah yang paling sulit dipenuhi, lebih sulit daripada membayar bunganya.

4. Urun dana

Urun dana (securities crowdfunding) memungkinkan usaha Anda menjual saham atau surat utang kepada banyak orang sekaligus, lewat aplikasi atau situs yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aturannya kini ada di POJK Nomor 17 Tahun 2025, dengan batas penghimpunan Rp10 miliar.

Menurut OJK, hingga April 2026 urun dana sudah mengumpulkan Rp1,93 triliun lewat 18 platform berizin. Jumlah ini masih kecil dibanding KUR, tetapi urun dana memberi usaha menengah cara baru untuk menjual saham tanpa harus masuk bursa.

Harganya adalah keterbukaan. Anda wajib melapor secara berkala kepada para pemodal, yang jumlahnya bisa ratusan sampai ribuan orang.

5. Modal ventura

Investor modal ventura memberi dana besar dan menerima saham plus hak-hak khusus sebagai gantinya. Modal ini dirancang untuk usaha yang bisa tumbuh berlipat dalam waktu singkat, lalu dijual atau dicatatkan di bursa. Cara kerjanya dibahas di artikel Cara kerja modal ventura.

Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat sekitar 80% pendanaan swasta di Asia Tenggara mengalir ke perusahaan yang sudah besar, dan hampir separuhnya ke layanan keuangan digital. Bagi sebagian besar usaha biasa, pintu ini praktis tertutup, dan itu tidak apa-apa.

6. Mitra strategis atau perusahaan holding

Pilihan terakhir adalah menggandeng mitra yang membawa dana sekaligus kemampuan: perusahaan holding, perusahaan besar di bidang yang sama, atau grup usaha yang bisa menyediakan sistem dan jaringan.

Bentuknya bisa berupa penjualan sebagian kecil saham, bisa juga bergabung penuh sebagai anak usaha. Harganya adalah berbagi kepemilikan dan mengikuti standar grup. Imbalannya adalah hal-hal yang sulit dibeli dengan uang saja: pembukuan yang rapi, harga beli bahan yang lebih murah karena dipesan bersama, dan pengalaman mengelola banyak usaha sekaligus.

  • Usaha baru dengan pemasukan kecil: laba sendiri dan KUR.
  • Usaha yang sudah stabil dan ingin membuka cabang: KUR, kredit bank, atau urun dana.
  • Usaha yang bisa tumbuh sangat cepat, seperti aplikasi: modal ventura.
  • Usaha yang butuh sistem dan manajemen, bukan hanya dana: mitra strategis atau holding.

Sebelum memilih, cocokkan syaratnya dengan cara usaha Anda menghasilkan uang. Usaha dengan pemasukan naik-turun, misalnya, akan lebih berat menanggung cicilan tetap daripada berbagi saham.

Sumber

  • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, “Kredit Usaha Rakyat 2025 Cetak Kinerja Solid, Seluruh Kredit Program Pemerintah Siap Take-off di Tahun 2026”, 21 November 2025. ekon.go.id
  • Otoritas Jasa Keuangan, POJK Nomor 17 Tahun 2025 tentang Penawaran Efek melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi. ojk.go.id
  • Otoritas Jasa Keuangan, “Carbon Exchange and Securities Crowdfunding (SCF) Update April 2026”. iru.ojk.go.id
  • Google, Temasek, dan Bain & Company, e-Conomy SEA 2025, November 2025. bain.com